Ramadhan is coming, Satan is leaving

QS 2:183

“O ye who believe, fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you, so that you may become righteous”


Ramadhan mubarrak is coming…

Last year, I spent almost the whole fasting month in a dormitory, as I was being in a Pre Departure Training. Nowadays, I eventually will go through a full of fasting month with my family, insya Allah. It was 11 years ago when I went through the holy month entirely in my hometown, with my parents. Then which of the favours of your Lord will you twain deny?

In this Ramadhan Kareem, let us try the best so that we will end this holy month with God’s blessing and forgiveness.

20130710-011737.jpg

Posted in Lain-lain | Tagged | Leave a comment

Bahasa Menunjukkan Bangsa

IRONIS…
Itulah mungkin kata yang cukup tepat untuk menggambarkan kondisi perbahasaan di negara kita ini, Indonesia.
Kenapa?
Betapa tidak, Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa resmi dan bahasa nasional di Indonesia, dan juga merupakan bahasa persatuan yang telah dicetuskan dalam salah satu butir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, semakin hari penggunaannya semakin memprihatinkan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Tengoklah bagaimana para pejabat di negeri ini yang lebih suka menyisipkan kata-kata “canggih” di dalam pidato resmi mereka dengan tujuan menonjolkan sisi intelektualitas mereka. Bukan cuma pejabat tentunya, mungkin sebagian besar orang, termasuk SAYA, akan merasa semakin bangga dan pintar ketika semakin banyak kata-kata “canggih” yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Semakin orang yang kita ajak bicara tidak mengerti arti kata-kata “canggih” itu, maka semakin tinggilah tingkat kebanggaan itu, semakin ‘tampak’ pandai-lah kita. Terkadang saking seringnya menggunakan sebuah kata “canggih”, seseorang mengalami kesulitan untuk mencari padanan kata atau sinonimnya dalam Bahasa Indonesia.
Bahkan, di beberapa sekolah tertentu, yang berlabel internasional, Bahasa Indonesia telah berubah menjadi bahasa minoritas. Tujuannya tentu baik, agar kualitas lulusannya memenuhi kualifikasi standar internasional. Tentu saja sebuah tujuan mulia yang sepenuhnya tidak akan saya debat, mengingat kualitas pendidikan di negeri ini yang SECARA UMUM boleh dikatakan semakin tertinggal dari negara-negara lain. Tapi tetap saja itu tampak sebagai sebuah ironi, menjadi minoritas di negeri sendiri.
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun tampaknya sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Tidak perlulah kita membicarakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam bahasa tutur, karena memang sifatnya yang tidak harus tunduk pada kaidah berbahasa yang sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dalam bahasa tulis formal, misalnya surat kabar, majalah, dan buku, semakin banyak ditemui penggunaan bahasa yang tidak tepat sesuai kaidah bahasa yang seharusnya. Contoh yang lebih riil, tentu saja tulisan dalam blog saya ini. Tidak perlu seorang ahli bahasa untuk menemukan banyak ketidaktepatan penggunaan bahasa dalam tulisan ini.
Lalu bagaimana nasib bahasa kita ini ke depannya? Dengan semakin besarnya tuntutan globalisasi yang mengharuskan kita bisa menguasai bahasa internasional, dengan semakin luasnya komunitas “alay” yang didominasi generasi muda penerus bangsa dengan bahasanya yang cukup memeras otak untuk bisa memahaminya, akankah Bahasa Indonesia akan tetap bertahan sebagai bahasa resmi, bahasa nasional, dan bahasa persatuan? Dua buah pertanyaan retoris yang tentunya siapa pun tidak akan bisa menjawabnya.
Penutup
Saat ini semakin banyak media massa dan publikasi yang menggunakan kata-kata “canggih” di dalamnya. Benarkah mereka kesulitan menemukan kata pengganti yang benar-benar tepat menggambarkan apa yang mereka maksud? Bukankah masih sangat banyak kata-kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang jangankan kita pahami maknanya, kita dengar pun mungkin tidak pernah. Bagi yang pernah mengikuti ujian Tes Potensi Akademik (TPA) tentu akan sangat paham tentang hal ini. Sekian kali saya mengikuti tes ini, selalu saja ada beberapa kata di dalam Tes Verbal yang tidak saya pahami, atau bahkan sama sekali belum pernah mendengarnya.
Penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap salah satu media massa yang cukup aktif mengenalkan penggunaan kata-kata “baru” yang hampir punah ditelan tebalnya KBBI.
Bagi teman-teman yang mungkin ingin mengetahui makna kata-kata yang tidak dipahami, atau ingin mengetahui bagaimana konteks penggunaan kata-kata dalam suatu kalimat, saya rasa KBBI ini bisa cukup membantu. Berikut tautannya:
http://code.google.com/p/kbbi-offline/

Teman-teman yang mungkin membutuhkan panduan bagaimana kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar, berikut ini tautan untuk Pedoman Umum EYD:

http://luk.staff.ugm.ac.id/ta/Suwardjono/EYD.pdf

Semoga membantu.

Posted in Education, Lain-lain | Leave a comment

Capital Market: It doesn’t look like any other street market

Diambil dari Skripsi S1 Ekonomi pada STIE Indonesia yang berjudul “Evaluasi Peran Profesionalisme Manajer Investasi dalam Memberikan Tingkat Pengembalian Reksa Dana Saham Melebihi Indeks LQ-45”
oleh Chairul Adi, tahun 2007 (dengan beberapa penyesuaian)

Pengertian Pasar Modal

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1996 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai aktivitas perdagangan dan penawaran Efek[1] kepada publik, aktivitas dari perusahaan publik yang berhubungan dengan Efek yang diterbitkan, dan aktivitas dari lembaga dan profesi yang berhubungan dengan Efek.
Pasar modal merupakan sumber pembiayaan alternatif bagi perusahaan yang membutuhkan dana dalam jumlah besar dan untuk jangka waktu yang panjang. Pasar modal mempertemukan dua pihak yang saling berkepentingan yaitu calon pemodal di satu pihak dan Emiten[2] yang membutuhkan dana jangka menengah atau panjang di pihak lain. Dengan kata lain, pasar modal berfungsi untuk mengalokasikan secara efisien arus dana dari unit ekonomi yang mempunyai surplus tabungan kepada unit ekonomi yang mempunyai defisit tabungan.[3]
Keberadaan pasar modal memegang peranan penting dalam meningkatkan aktivitas perekonomian nasional. Melalui mekanisme pasar modal, perusahaan dapat lebih mudah memperoleh dana untuk melakukan ekspansi sehingga dapat menciptakan kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat. Selain itu, keikutsertaan masyarakat dalam kepemilikan perusahaan akan mendorong perusahaan untuk menerapkan manajemen secara lebih profesional, efisien, dan berorientasi pada keuntungan yang pada akhirnya akan menciptakan suatu kondisi good corporate governance serta keuntungan yang lebih baik bagi para investor.


[1] Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995). 
[2] Emiten adalah Pihak yang melakukan Penawaran Umum (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995). 
[3] Syahyunan. “Prospek, Manfaat dan Perkembangan Investasi di Pasar Modal Indonesia”, Digitized by USU digital library, 2004.

Mekanisme Pasar Modal

Mengingat pasar modal merupakan sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan merupakan wahana investasi bagi para pemodal yang memiliki peran strategis untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, maka kegiatan pasar modal perlu mendapatkan pengawasan agar dapat dilaksanakan secara teratur, wajar, dan efisien. Untuk menyelenggarakan perdagangan Efek yang teratur, wajar, dan efisien[4] maka Bapepam selaku pihak yang diberi kewenangan dan kewajiban untuk membina, mengatur, dan mengawasi kegiatan di pasar modal kemudian mendirikan Bursa Efek. Bursa Efek yang ada di Indonesia saat ini adalah PT. Bursa Efek Indonesia yang merupakan penggabungan dari dua Bursa Efek, yaitu PT. Bursa Efek Jakarta dan PT. Bursa Efek Surabaya. 
Bursa efek memegang peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan pasar modal, yaitu antara lain sebagai penyedia sistem dan/atau sarana untuk terselenggaranya perdagangan Efek, membuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan bursa (self regulatory organization), mengupayakan likuiditas instrumen, mencegah praktik-praktik yang dilarang di bursa (kolusi, pembentukan harga yang tidak wajar, insider trading, dan sebagainya), menyebarluaskan informasi bursa, dan menciptakan/mengembangkan instrumen dan/atau jasa yang baru. 
Di dalam mekanisme pasar modal dikenal dua istilah pasar yaitu pasar perdana dan pasar sekunder. Pasar perdana (primary market) merupakan pasar dimana suatu Emiten pertama kali melakukan penawaran atas saham atau surat berharga lainnya kepada publik yaitu melalui mekanisme Penawaran Umum[5] atau Initial Public Offering (IPO). Pada pasar perdana, saham dan Efek lainnya untuk pertama kalinya ditawarkan kepada calon investor oleh Penjamin Emisi Efek[6] (underwriter) melalui Perantara Pedagang Efek [7](broker-dealer) yang bertindak sebagai agen penjual. Selama periode pemesanan (book building), investor yang berminat dapat memesan saham dengan cara menghubungi Penjamin Emisi Efek atau agen penjual dan kemudian mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Selanjutnya Penjamin Emisi Efek dan Emiten melakukan proses penjatahan (allotment) kepada investor yang telah memesan. Dalam proses penjatahan terdapat kemungkinan terjadinya undersubscribed yaitu kondisi dimana jumlah pemesanan saham oleh investor lebih rendah daripada jumlah saham yang ditawarkan. Dalam kondisi ini, semua investor akan memperoleh saham atau Efek lainnya sesuai dengan jumlah yang dipesannya. Sebaliknya apabila jumlah pemesanan saham oleh investor lebih banyak daripada jumlah saham yang ditawarkan (oversubscribed) maka terdapat kemungkinan investor akan mendapatkan saham atau Efek lainnya kurang dari jumlah yang dipesan atau bahkan mungkin tidak mendapatkannya sama sekali. Selanjutnya, saham dan Efek lainnya tersebut didistribusikan kepada para investor melalui Penjamin Emisi Efek dan agen penjual. Proses terakhir dalam mekanisme pasar perdana adalah pencatatan di Bursa Efek. 
Saham dan Efek lainnya yang telah tercatat di Bursa Efek selanjutnya dapat diperjualbelikan antara investor satu kepada investor lainnya melalui mekanisme pasar sekunder (secondary market). Aktivitas jual beli saham pada pasar sekunder dilakukan melalui mekanisme bursa yang melibatkan perusahaan-perusahaan Efek yang telah mendapat izin usaha sebagai Perantara Pedagang Efek. Perusahaan Efek tersebut melakukan tawar menawar (auction) berdasarkan perintah jual dan/atau perintah beli dari investor melalui sistem yang terkomputerisasi yang disebut Jakarta Automated Trading System (JATS). Mekanisme pencocokan (matching) antara order jual dan order beli tersebut berdasarkan pada kriteria prioritas harga dan prioritas waktu. Prioritas harga artinya bahwa siapapun yang memasukkan order pembelian dengan harga penawaran beli (bid price) tertinggi akan mendapatkan prioritas utama untuk bertransaksi dengan siapapun yang memasukkan order penjualan dengan harga penawaran jual (ask price) terendah. Mekanisme perdagangan seperti tersebut di atas digolongkan sebagai perdagangan pada pasar reguler. 
Selain perdagangan pada pasar reguler, dikenal juga adanya pasar negosiasi yaitu perdagangan yang dilaksanakan berdasarkan tawar menawar individual antara anggota bursa beli dengan anggota bursa jual dengan berpedoman pada kurs terakhir pada pasar reguler. Apabila terdapat kegagalan dalam pasar reguler maupun pasar negosiasi yang diakibatkan anggota bursa tidak dapat memenuhi kewajibannya maka perdagangan dapat dilakukan melalui pasar tunai dimana berlaku prinsip pembayaran dan penyerahan seketika (cash and carry). Selain melalui mekanisme Bursa Efek, perdagangan pada pasar sekunder dapat juga dilakukan melalui mekanisme Over The Counter (OTC). Mekanisme OTC terjadi pada transaksi jual beli obligasi dari pemegang obligasi (bondholder) yang satu dengan pemegang obligasi lainnya melalui proses negosiasi individual. Transaksi yang terjadi melalui mekanisme OTC selanjutnya dilaporkan kepada Bursa Efek melalui sistem OTC-FIS (Over The Counter Fixed Income Service)

[4] Perdagangan Efek secara teratur, wajar, dan efisien adalah suatu perdagangan yang diselenggarakan berdasarkan suatu aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten. Dengan demikian, harga yang terjadi mencerminkan mekanisme pasar berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran. Perdagangan Efek yang efisien tercermin dalam penyelesaian transaksi yang cepat dengan biaya yang relatif murah (Penjelasan Pasal 7 Ayat 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995). 
[5] Penawaran Umum adalah kegiatan penawaran Efek yang dilakukan oleh Emiten untuk menjual Efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995). 
[6] Penjamin Emisi Efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995).
[7] Perantara Pedagang Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha jual beli Efek untuk kepentingan sendiri atau pihak lain (Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995).
Posted in Capital Market, Education, Investment | Leave a comment

Investing for a Profitable Retirement

Have you prepared for your retirement? Have you set aside enough money for your children’s education?
People generally stop earning money at fifty five; after retirement, and in the years following, they will spend their savings, so it is essential that their retirement funds are adequate for their needs. The best way to hedge against inflation and increase the value of your savings is through investment.
Investing money is different from saving, or depositing it in a bank. Your money will be safe if you put it in the bank as it is guaranteed by LPS (Indonesia Deposit Insurance Corporation) for the maximum amount up to Rp 2 billion. However, you cannot expect that your savings will increase. In fact, their value will decrease since the interest rate offered from the banking system (about 1% – 3% p.a.) is generally lower than the inflation rate (more than 6%). On the other hand, you can actually increase your savings by investing in a broad range of instruments. The most prominent investment choices are gold and land/property since their value continually appreciates over the years.
Few people are familiar with investment alternatives which are more profitable than gold and land/property. One of these alternatives is investment in the capital market. You can opt for stocks, bonds, mutual funds, exchange traded funds (ETFs), and asset-backed securities (EBAs). There are 456 stocks and hundreds of bonds (corporate and government bonds) you can choose from. Apart from these, you can also invest in over 700 mutual funds registered at Bapepam-LK (Indonesian Capital Market and Financial Institutions Supervisory Agency) or the relatively new products, namely ETFs and EBAs. Historically, long term investment in the capital markets is more profitable than other options.
Investing in mutual funds is an easier and safer way to invest. Unlike stocks and bonds which need specialist investment skills, anyone is capable of investing in mutual funds as no specialist knowledge of financial markets is necessary, since the money put in the mutual funds will be managed by professionals, namely investment managers. The investment managers diversify the money into various stocks, bonds, and money market instruments and decide when it is most profitable to buy and sell the portfolios. The money put in the registered mutual funds will also be secure as there is an independent party, a Custodian Bank, which keeps it in a separate account. The Custodian Bank has a controlling function so that the investment manager complies with the investment policy stipulated on the mutual fund’s prospectuses.
Mutual funds have many variations in type, ranging from the lowest level of risk, Money Market Fund, to the highest level, Equity Fund. There is Capital Protected Funds in which you have almost no risk of losing your money since the initial capital will be protected through a particular investment structure. Also, you can invest in Index Funds if you want to spread your money over all constituents of a particular stock index. The return of this mutual fund will mirror the return of the benchmarked index.
Although mutual funds are a profitable investment, very few people are aware of them. The figures for investors of mutual funds only account for around 240,000 people (http://aria.bapepam.go.id/reksadana as of mid November 2012), about 0.1% of the total population. Some people think that this sort of investment is only for very affluent people. Others believe that investing in the capital market is complicated and needs special knowledge in investment techniques.
Considering this issue, Bapepam-LK and APRDI (Association of Investment Management Companies) have conducted a series of seminars and road shows. These are aimed at promoting an investment culture and introducing mutual funds to the public. Since the investors of mutual funds are concentrated in a few big cities in Java (around 80% of total), these programmes are focused on cities outside Java which have potential investors, such as Medan, Balikpapan, Manado, and Lombok.
To increase the investor base, Bapepam-LK and APRDI held an event, Pekan Reksa Dana Nasional (National Mutual Fund Days) at 18 – 21 October 2012 at Mall Central Park, Jakarta. The event was opened by Vice Minister of Finance, Mahendra Siregar, and followed by a press conference, talk show, mutual fund clinic, and job fair. More than 15,000 people attended the event and some of them took up these new investment options.
In addition, most Investment Management Companies have reduced the minimum amount of investment so that more people can invest. You can now find mutual funds which only require Rp 100 thousand for the minimum amount. Investment Management Companies also provide an instalment scheme in which people are able to invest on a regular basis. These breakthroughs are expected to increase the number of investors in mutual funds.
It is hard, but not impossible, to change the traditional ways of saving money and create an investment culture. Introducing various types of investments and simplifying the mechanisms of investment will help to encourage new investors. The example of mutual funds is a good starting point which might be applied to others. One important thing that should not be forgotten in promoting investment is assessing the risks. An adequate understanding of risks enables people to get more benefits from investing their money.
Posted in Capital Market, Investment, Reksa Dana | 1 Comment

9/7 and 24/11

Malam terakhir, Asrama PHRD…

Akhirnya, selesai sudah rangkaian program Pre-Departure Training untuk calon karyasiswa SPIRIT World Bank Batch II 2011 yang pastinya akan menyisakan memori kisah penuh warna dalam benak seluruh peserta; the Mackayans, the Clevelanders, the Wellingtoners, dan the Vancouverites.
Masih jelas dalam ingatanku ketika hari Minggu, 9 Juli 2012 harus sibuk dengan packing barang untuk 5 bulan ke depan, sekoper penuh ditambah satu backpack yang nyaris penuh. But damn..!!! satu dokumen yang harusnya aku bawa ternyata masih tertinggal di kantor. Sialnya lagi, aku terpaksa harus ke Tangerang bersama se-abrek barang-barang itu dengan menggunakan kereta karena taksi yang kupesan tak kunjung datang. Sempat ambrukkarena koperku terlalu besar untuk diletakkan di bagian depan sepeda motor, akhirnya tukang ojek berhasil juga membawaku ke stasiun Bojong Gede. Fiuhhh…
Perjuangan berikutnya adalah harus membawa barang-barang itu ke dalam Commuter Line yang entah kenapa tak pernah sepi dari penumpang. But it’s quite fine as it’s not as crowded as working days. Turun di Sudirman, sedikit lebih nyaman karena akhirnya diriku dan barang-barang itu bisa berpindah tempat ke sebuah taksi. Terpaksa harus mampir kantor dulu untuk mengambil dokumen yang tertinggal, Super Prodi (Surat Pernyataan Pemilihan Program Studi), sebelum melanjutkan ke Bintaro. Fiuhhh (again)…
Akhirnya sampai juga, dan berhasil menjejakkan kaki kembali ke kampus yang telah 7,5 tahun kutinggalkan, STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Sempat nyasar dan bingung karena banyak sekali perubahan yang terjadi sejak terakhir kali kutinggalkan, I eventually arrived at the dormitory. After submitting the documents and getting the room, I then put all of the belongings in the room and looked for dinner in Bintaro Plaza with my friends, the officemates. Sepulang makan, kembali ke kamar dan bertemu dengan roomate selama 5 bulan ke depan. Alhamdulillah, dapat teman sekamar yang baik, mas Denis namanya, kakak alumni STAN, eselon IV di Bagian Keuangan, Itjen.
Dan kisah penuh warna itu pun dimulai…
Terkagum-kagum dengan eselon I yang cool  dan merakyat serta eselon II yang tidak kalah cool dan motivator hebat, a various kind of teachers, kursi di kelas yang berpotensi menstimulasi terjadinya ambeien, asrama yang terkenal dengan cerita mistisnya, makanan yang kadang enak tapi lebih sering tidak enaknya (dan kalaupun enak kuantitasnya mengenaskan), buku diktat yang tebalnya bisa dipakai buat bantal, dimanjakan fasilitas laundry setiap hari, akses Wi-Fi yang lumayan oke (khususnya saat weekend ketika sebagian peserta pulang ke rumah masing-masing), kamar ber-AC dan layanan housekeeping-nya, tertembak saat paintball di lokasi outbond, Ramadhan di dormitory, the f*cking iBT, dan yang paling berkesan tentunya teman yang beraneka ragam.
Dan kini kisah itu harus berakhir… (Sometimes I wish to able to write the details of those colorful moments; Now, however, you can see a short movie telling everything about the moments concisely)

It’s such a very good movie. Thanks to the producers for the brilliant ideas.

Diawali dengan malam keakraban pada hari Kamis, 22 November 2012, we call it “the Camaraderie Night”, keesokan paginya diisi dengan sebuah ceramah motivasi yang sangat menginspirasi oleh Ivhan Sasmita. Agak aneh sebenarnya ketika setelah itu masih ada kelas lagi (but I actually didn’t attend the class), tapi seperti itulah adanya. Ada juga sesi evaluasi dari pihak Komite terkait penyelenggaraan diklat secara keseluruhan.
Finally, a closing ceremony by Mr. Safuadi. Bukan ceremony sebenarnya, karena Kapusdiklat sendiri kurang menyukai hal-hal yang berbau formalitas dan seremonial. That’s way I previously said that he was cool. Beliau menyampaikan bahwa dirinya telah gagal, karena masih ada beberapa orang yang belum berhasil memperoleh nilai skor iBT TOEFL sebesar 79. As I said before, he was such a good motivator. Beliau memotivasi mereka agar bisa segera mencapai skor 79 dan juga mendorong kami semua untuk bersatu padu membantu dan menyemangati rekan-rekan yang belum berhasil. All in all, I think it’s not an ordinary closing speech and I like that.
Kini saatnya harus kembali sibuk dengan acara packing, dan permasalahan utama adalah, “Kenapa barang-barang ku tambah banyak gini???” Satu koper sudah penuh dan sekarang bingung bagaimana dengan barang tersisa yang belum masuk koper; yang sepertinya tidak akan muat dengan hanya dimasukkan ke dalam sebuah backpack. Hopefully I manage to pack all of the stuffs so that tomorrow I can bring them back to my home easily.
Pre-Departure Training mungkin telah selesai, tapi kenangan dan kisah penuh warna itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu menjadi bagian dari irisan-irisan dalam hidupku. Kebersamaan dengan teman-teman yang selama 5 bulan terakhir ini tinggal satu atap di dormitory ini mungkin telah berakhir, tapi persahabatan dan ikatan di antara kita tidak akan pernah berakhir. We are the fellowship of SPIRIT World Bank Batch II 2011.
(Closing paragraph for the fellowship of the Vancouverites…)
Sebagai bagian dari The Vancouverites, aku merasa bangga. Meskipun mungkin kita dianggap sebagai kelas proletar (in term of English skills), aku bangga dengan perjuangan kalian the warriors of the Vancouver. Suatu saat waktu akan membuktikan bahwa the Vancouverites bisa lebih baik, lebih sukses dan tidak kalah dari the Mackayans, the Clevelanders, and the Wellingtoners. Saat ini mungkin lebih dari separuh dari the Vancouverites belum berhasil memperoleh iBT 79, tapi yakinlah bahwa kita semua bisa. As Mr. Dian said, “we are on the same boat.” Aku akan senantiasa berdoa untuk kalian semua para warriors dan melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian sehingga perahu kita bisa berjalan. Tanpa kalian, perahu ini tidak akan pernah berjalan. Jangan pernah menyerah dan putus asa. I am very proud to be a part of the Vancouverites.

the Vancouverites
Love you all guys…  (the fatty aChai)
Posted in Beasiswa, Education, Lain-lain | Leave a comment

First Slice

I don’t know, actually, what should I do with this blog. Just trying to manage a blog.
Wish, someday, it will be useful for me, and for everyone….
This is my first step.
Posted in Uncategorized | Leave a comment